Bupati Chaidir Syam Pamerkan Mutiara Tersembunyi Sulsel: Maros Siap Jadi Primadona Wisata Nasional
Info Bantaeng– Kabupaten Maros, yang selama ini mungkin lebih dikenal sebagai ‘kota industri’ atau ‘gerbang menuju Tana Toraja’, sedang bersiap untuk menggeser narasi tersebut. Di bawah kepemimpinan Bupati Chaidir Syam, daerah ini dengan percaya diri mempresentasikan dirinya sebagai destinasi wisata kelas dunia yang lengkap, menyimpan segudang potensi yang siap digali.
Bukti keseriusan itu ditunjukkan secara langsung oleh Bupati Chaidir Syam saat memenuhi undangan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Republik Indonesia di Jakarta. Dalam pertemuan strategis tersebut, Bupati didampingi oleh Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Maros, Suwardi Sawedi, dan diterima dengan hangat oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ni Luh Enik Ermawati atau yang akrab disapa Ni Luh Puspa, beserta jajaran deputinya.

Baca Juga: Di Sudut Karaoke Ardha, Rahasia Keberadaan Bandar Togel Bantaeng Terkuak
Agenda utama pertemuan ini adalah presentasi Master Plan Bisnis Pariwisata Kabupaten Maros, sebuah peta jalan komprehensif yang dirancang untuk mengakselerasi pertumbuhan sektor pariwisata secara berkelanjutan dan berdaya saing.
Lebih dari Sekadar Rencana: Menjual Keunikan Maros ke Panggung Nasional
Chaidir Syam tidak hanya menyodorkan dokumen rencana, tetapi dengan penuh semangat memaparkan keunikan yang menjadikan Maros spesial. Dua destinasi andalan, Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung dan Kawasan Karst Rammang-Rammang, menjadi fokus utama presentasinya.
“Kami menyampaikan kepada Ibu Wamen tentang dinamika pengembangan pariwisata di Maros serta potensi besar yang kita miliki. Kami yakin, dengan sinergi dan kerjasama yang solid dengan pemerintah pusat, pariwisata Maros tidak hanya akan bertumbuh, tetapi akan melesat menjadi salah satu destinasi unggulan Indonesia,” ujar Chaidir Syam dengan penuh keyakinan.
Bantimurung, yang dijuluki ‘Kingdom of Butterfly’ oleh Alfred Russel Wallace, bukan hanya tentang air terjun yang indah, tetapi juga tentang kekayaan biodiversitasnya. Sementara Rammang-Rammang, kampung di atas laut batu kapur terbesar kedua di dunia setelah di China, menawarkan pengalaman magis dengan panorama karst yang dramatis, sungai jernih, dan budaya masyarakatnya yang masih autentik.
Event Sebagai Penggerak: Menghidupkan Destinasi dengan Kegiatan
Sebuah destinasi wisata tidak hidup hanya dari keindahan alamnya saja. Memahami hal ini, Chaidir Syam juga menyampaikan serangkaian agenda tahunan yang sengaja dirancang sebagai magnet wisatawan dan upaya pelestarian budaya.
“Kami memiliki event yang sudah mulai dikenal seperti Geopark Run, lari lintas alam yang menantang dengan latar belakang pemandangan karst yang memukau. Selain itu, ada juga event budaya yang sarat makna seperti Pesta Panen di Karaeng Marusu dan Perayaan Maulid Jolloloro di Rammang-Rammang,” jelasnya.
Event-event ini tidak hanya menambah daya tarik, tetapi juga memperpanjang durasi kunjungan wisatawan dan mendistribusikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat lokal.
Menyambut Tren: Pengembangan Wisata Alam dan Keluarga Kamping
Merespon tren wisata pasca-pandemi yang mengarah pada wisata alam dan kegiatan luar ruangan (outdoor), Pemerintah Kabupaten Maros juga memiliki visi untuk mengembangkan wisata keluarga kamping (family camping).
“Potensi untuk wisata kamping keluarga sangatlah terbuka lebar. Kami memiliki wilayah pegunungan yang sangat luas dengan pemandangan yang tak kalah mempesona. Utamanya di wilayah Kecamatan Tompobulu, Camba, Cenrana, dan Mallawa,” tutur Chaidir.
Pengembangan ini diharapkan dapat menciptakan produk wisata baru yang ramah keluarga, terjangkau, dan mampu menarik pasar wisatawan domestik yang besar.
Pemulihan Pasca Bencana dan Dukungan Anggaran
Di sisi lain, Kepala Disparpora Maros, Suwardi Sawedi, memberikan penjelasan lebih teknis mengenai kebutuhan mendesak, khususnya untuk pemulihan destinasi andalan mereka. Dia mengajukan permohonan bantuan anggaran kepada pemerintah pusat senilai Rp 29 miliar yang difokuskan untuk pengembangan dan rehabilitasi kawasan Wisata Bantimurung.
“Bantimurung sangat membutuhkan perhatian kita bersama pasca diterjang banjir bandang besar beberapa waktu lalu yang menyebabkan banyak fasilitas umum rusak parah. Bantuan anggaran ini sangat krusial untuk mengembalikan kejayaan Bantimurung bahkan membuatnya lebih baik,” sebut Suwardi.
Prestasi dan Persiapan Masa Depan
Pertemuan itu juga menjadi momen membanggakan bagi Kabupaten Maros. Suwardi menyampaikan ucapan terima kasih karena Desa Wisata Dolli Tukamasea berhasil masuk dalam 60 besar ajang Desa Wisata Awards 2025.
“Tentunya kami sangat bangga dengan pencapaian ini. Ini adalah buah dari kerja keras semua pihak. Tidak berhenti di situ, tahun ini kami sudah mempersiapkan 60 desa lainnya untuk diikutsertakan dalam ajang serupa tahun depan. Ini adalah bagian dari strategi kami untuk memberdayakan wisata desa secara merata,” papar Suwardi penuh optimisme.
Penutup: Maros Menatap Masa Depan Gemilang
Kunjungan kerja Bupati Chaidir Syam ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah sebuah pernyataan ambisius bahwa Maros siap bertransformasi. Dengan kombinasi antara keindahan alam yang memukau (geopark, karst, sungai, kupu-kupu), kekayaan budaya yang terjaga, rencana master plan yang matang, serta event-event kreatif, Maros sedang membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.
Dukungan dari pemerintah pusat, seperti yang diharapkan dari pertemuan dengan Wamen Ni Luh Puspa, akan menjadi catalyst yang mempercepat semua rencana ini. Jika semua berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin dalam waktu dekat, nama Maros akan disebut-sebut dalam satu napas dengan destinasi wisata premium lainnya di Indonesia, menjadikannya primadona baru yang wajib dikunjungi.

















